Cara Menghitung SROI Program CSR: Panduan Praktis dan Contoh Perhitungan
Panduan menghitung SROI program CSR mulai dari rumus, tahapan, contoh perhitungan, dan cara menghindari klaim berlebihan.

Anggota komunitas pengelola sampah di Bandung menunjukkan produk olahan dari sampah. SROI membantu menerjemahkan perubahan seperti ini ke dalam nilai rupiah.
Program CSR sering kali hanya berakhir pada angka-angka laporan, seperti 20 kali pelaksanaan pelatihan, 300 peserta, dan 5 ton bibit yang dibagikan. Padahal, program CSR sepatutnya dinilai dari perubahan nyata yang dihasilkannya di masyarakat.
Tuntutan pembuktian dampak dari program CSR semakin menguat. Pemberi dana, auditor, dan penilai PROPER semakin memperketat pembuktian dampak agar tidak ada program yang mengklaim dampak tanpa dasar. Akan tetapi, membuktikan bahwa sebuah program CSR menghasilkan perubahan bukanlah perkara mudah.
Salah satu cara yang diakui untuk melakukannya adalah Social Return on Investment (SROI), yaitu metode yang menerjemahkan manfaat sosial dari sebuah program ke dalam nilai rupiah. Artikel ini membahas cara menghitung SROI program CSR langkah demi langkah, lengkap dengan contoh perhitungan dan kesalahan umum yang kerap merusak kredibilitas hasilnya.
Apa itu SROI?
SROI adalah kerangka untuk menilai manfaat sebuah program secara lebih utuh, melampaui laporan kegiatan. Kerangka ini menghitung biaya dan manfaat sosial, lingkungan, serta ekonomi, lalu menyatakannya dalam rupiah sehingga dampak yang selama ini tidak tercatat karena tidak berwujud uang dapat diukur dan dibandingkan (A Guide to SROI).
Hasil akhir SROI berupa rasio antara nilai sosial yang dihasilkan dan investasi yang dikeluarkan. Angka pertama menunjukkan nilai yang dihasilkan, sedangkan angka kedua menunjukkan besarnya investasi. Rasio 3:1, misalnya, berarti setiap Rp1 yang diinvestasikan menghasilkan nilai sosial setara Rp3. Semakin besar angka pertama, semakin besar pula manfaat yang dirasakan masyarakat dibandingkan dana yang dikeluarkan.
Metode ini berpegang pada delapan Prinsip Social Value dari Social Value International. Pelibatan pemangku kepentingan memastikan program mengukur perubahan yang bermakna bagi penerima manfaat, termasuk perubahan yang tidak terlihat oleh pelaksana. Sementara itu, prinsip tidak mengklaim berlebihan menjadi benteng utama untuk mencegah impact washing, yaitu pengakuan dampak yang melebihi kenyataan.
Kapan perusahaan membutuhkan SROI?
Terdapat tiga situasi yang paling umum:
- PROPER. Menurut KLH/BPLH, SROI menjadi bagian dari syarat PROPER Emas. Permen LH/BPLH No. 7 Tahun 2025 Pasal 17 ayat (8) menetapkan bahwa aspek inovasi sosial dinilai dengan metode SROI, dan Pasal 29 mensyaratkan program unggulan inovasi sosial untuk meraih peringkat Emas.
- TJSL BUMN. Permen BUMN PER-1/MBU/03/2023 mensyaratkan program TJSL "terukur dampaknya". Kementerian BUMN juga menjadikan pengukuran SROI program TJSL unggulan sebagai KPI pada 2023 hingga 2025.
- Laporan keberlanjutan. Berdasarkan POJK 51/2017, lembaga jasa keuangan, emiten, dan perusahaan publik wajib melaporkan dampak kegiatannya, baik yang positif maupun negatif, bagi masyarakat sekitar. SROI tidak diwajibkan, tetapi dengan SROI, dampak yang tadinya hanya bisa diceritakan dapat ditunjukkan dengan angka yang terukur.
Di luar kewajiban, SROI juga berguna bagi keputusan internal untuk menentukan program yang layak dilanjutkan karena menghasilkan dampak nyata, program yang perlu diubah, dan prioritas anggaran ke depan.
Rumus SROI
Rasio SROI adalah total nilai dampak saat ini (present value) dibagi total investasi (Glossary Social Value UK):
Manfaat program biasanya dapat dirasakan selama beberapa tahun, sementara nilai uang cenderung menurun seiring waktu. Karena itu, manfaat di tahun-tahun mendatang disesuaikan ke nilai hari ini agar seluruh manfaat dapat dibandingkan dengan investasi pada patokan yang sama. Penyesuaian ini disebut diskonto.
Huruf r mewakili tingkat diskonto. Sebagai acuan, panduan SROI dari Inggris memakai angka 3,5%, yaitu tingkat yang biasa dipakai pemerintah Inggris untuk menilai program publik. Untuk program di Indonesia, pilihlah tingkat diskonto yang wajar untuk kondisi setempat dan jelaskan dasar pemilihannya di laporan.
Enam tahap menghitung SROI
A Guide to SROI membagi proses menjadi enam tahap. Berikut versi praktisnya untuk program CSR.
- Tetapkan lingkup dan pemangku kepentingan. Tentukan program dan periode yang dinilai, tujuan analisis (forecast atau evaluasi), dan siapa saja yang mengalami perubahan, misalnya penerima manfaat, keluarga mereka, kelompok, pemerintah desa, atau pembeli.
- Petakan outcome. Susun rantai perubahan dari input (dana, staf), aktivitas (pelatihan, pendampingan), output (hasil langsung kegiatan, seperti jumlah peserta yang terlatih), sampai outcome (perubahan yang dirasakan penerima manfaat, seperti pendapatan naik dan biaya produksi turun). Susun rantai perubahan ini bersama penerima manfaat dan mitra lokal.
- Buktikan outcome dan beri nilai. Tetapkan indikator untuk tiap outcome, yaitu tolok ukur yang menunjukkan apakah perubahan memang terjadi. Kumpulkan datanya lewat survei, catatan penjualan, atau wawancara, kemudian beri nilai dalam rupiah. Untuk outcome yang tidak punya harga pasar, gunakan proksi finansial, yaitu nilai pengganti yang mendekati manfaatnya, seperti biaya berobat yang terhindari atau uang pembelian pupuk yang tidak lagi dikeluarkan.
- Tetapkan dampak. Kurangi nilai outcome dengan bagian perubahan yang bukan hasil program, yaitu yang tetap akan terjadi tanpa program dan yang disebabkan pihak lain. Tahap ini menentukan apakah angka SROI Anda kredibel (lihat penyesuaian di bawah).
- Hitung SROI. Perkirakan nilai dampak untuk setiap tahun selama manfaatnya masih dirasakan, sesuaikan ke nilai hari ini dengan diskonto, lalu bagi totalnya dengan seluruh investasi program. Setelah itu, uji sensitivitas: geser asumsi yang paling berpengaruh, misalnya durasi manfaat atau tingkat diskonto, lalu lihat seberapa besar rasio berubah.
- Laporkan dan gunakan. Sampaikan hasilnya kepada pemangku kepentingan, termasuk asumsi dan keterbatasannya. Pakai temuannya untuk memperbaiki rancangan program periode berikutnya.
Tetapkan lingkup
Program, periode, tujuan analisis, dan pemangku kepentingan
Petakan outcome
Rantai input, aktivitas, output, sampai outcome
Buktikan & beri nilai
Indikator, data lapangan, dan proksi finansial
Tetapkan dampak
Kurangi perubahan yang bukan hasil program
Hitung SROI
Diskonto, rasio, dan uji sensitivitas
Laporkan & gunakan
Bagikan hasil, lalu perbaiki program berikutnya
Enam tahap menghitung SROI program CSR: tetapkan lingkup, petakan outcome, buktikan dan beri nilai, tetapkan dampak, hitung SROI, laporkan dan gunakan.
Empat penyesuaian agar SROI tidak diklaim berlebihan
Kesalahan yang sering muncul dalam SROI adalah menganggap semua perubahan pada penerima manfaat sebagai hasil program. Empat penyesuaian ini mencegahnya:
Setiap penyesuaian dinyatakan dalam persen dan harus punya dasar, misalnya data kelompok pembanding, wawancara penerima manfaat, atau data sekunder. Sebutkan dasar itu pada laporan.
Nilai dampak per outcome per tahun dihitung dengan rumus:
Di tahun-tahun berikutnya, nilai ini dikurangi lagi sebesar persentase drop-off.
Contoh nyata SROI forecast Greenpreneur Academy
Greenpreneur Academy adalah program inkubasi Manava untuk 20 komunitas pengelola sampah di Bandung, seperti bank sampah dan usaha olahan sampah. Selama empat bulan, pengurus komunitas mengikuti tujuh modul pelatihan dan dua kunjungan mentoring lapangan. Tiga komunitas terbaik mendapat seed fund, dan produk dari komunitas dengan kinerja terbaik dipasarkan di Jaga Bumi Eco Mart, Cihampelas Walk. Sebelum program berjalan, kami menghitung SROI forecast untuk satu tahun.


Sampah terpilah di Bank Sampah Cerita Sampah dan karung hasil olahan di Plastavfall Solution, dua komunitas peserta Greenpreneur Academy. Perubahan di tingkat komunitas seperti ini yang dihitung nilainya dalam SROI.
Langkah 1: petakan outcome dan beri nilai. Kami memetakan tujuh outcome untuk lima kelompok pemangku kepentingan.
Untuk outcome lapangan kerja, pemasok, sampah, dan emisi, kami hanya menghitung tiga komunitas penerima seed fund.
Langkah 2: tetapkan dampak. Kami memakai deadweight 20% (sebagian bank sampah bisa tumbuh tanpa program), attribution 15% (peran pemda, komunitas, dan pihak lain), drop-off 10%, dan displacement 5% (komunitas membuka pasar baru, hampir tidak menggeser pelaku lain). Keempatnya digabung:
Nilai sosial bersih = Rp789,8 juta × 58,14% = Rp459,2 juta.
Langkah 3: hitung rasio. Rp459,2 juta dibagi dana program Rp150 juta menghasilkan SROI 3,06:1. Karena horizon forecast hanya satu tahun, nilai tidak perlu didiskonto ke tahun-tahun berikutnya.
SROI forecast Greenpreneur Academy
Dari nilai sosial bruto ke nilai sosial bersih, dalam juta rupiah per tahun
Penyesuaian gabungan: deadweight 20%, attribution 15%, drop-off 10%, displacement 5%. Angka forecast, akan divalidasi dengan data pasca-program. Sumber: Manava Foundation.
Grafik jembatan SROI forecast Greenpreneur Academy: nilai sosial bruto Rp789,8 juta, dikurangi penyesuaian Rp330,6 juta, menjadi nilai sosial bersih Rp459,2 juta, dibandingkan dana program Rp150 juta.
Ada satu asumsi yang perlu Anda perhatikan. Rasio di atas dihitung terhadap dana tunai program. Mitra juga menyumbang pelatih secara in-kind, dan prinsip SROI meminta semua input dihitung. Jika kontribusi in-kind itu bernilai setara Rp150 juta, total input menjadi Rp300 juta dan rasionya 1,53:1. Kami akan memakai nilai in-kind yang sebenarnya di SROI evaluatif.
Forecast ini akan divalidasi lewat monitoring delapan bulan setelah program selesai, meliputi pendapatan komunitas, jumlah tenaga kerja, volume sampah yang teralihkan, dan keberlanjutan usaha alumni.
Lima kesalahan yang membuat SROI tidak dipercaya
- Menghitung output sebagai outcome. "300 orang dilatih" adalah output. Outcome-nya adalah apa yang berubah setelah pelatihan, misalnya berapa orang yang kemudian bekerja atau pendapatannya naik.
- Melewatkan faktor pengurang. Tanpa faktor pengurang (deadweight, attribution, displacement, drop-off), rasio hampir pasti terlalu tinggi.
- Tidak melibatkan penerima manfaat. Outcome yang dipilih hanya oleh tim CSR sering melewatkan perubahan yang paling penting bagi masyarakat, termasuk dampak negatif.
- Proksi finansial tanpa dasar. Setiap nilai rupiah harus bisa ditelusuri sumbernya, misalnya harga pasar, upah minimum, tarif layanan, atau data resmi.
- Membandingkan rasio antarperusahaan. A Guide to SROI menegaskan bahwa rasio tidak tepat dibandingkan begitu saja karena lingkup dan asumsinya berbeda. Yang lebih berguna adalah membandingkan rasio program Anda sendiri dari tahun ke tahun.
SROI forecast atau evaluatif?
SROI forecast memperkirakan nilai sosial yang akan tercipta jika program mencapai outcome yang direncanakan. SROI evaluatif dihitung setelah program berjalan, berdasarkan outcome yang sudah terjadi (A Guide to SROI).
Forecast dapat digunakan saat merancang program atau menyusun proposal. Evaluatif dilakukan saat program sudah berjalan dan memberikan hasil. Forecast yang baik juga menyiapkan indikator dan cara pengumpulan data yang nanti dipakai untuk evaluasi.
Bagaimana Manava mengukur SROI
Di Manava Foundation, kami mulai mengukur sejak assessment, memakai hasilnya untuk merancang program, dan memantaunya sepanjang pelaksanaan.

Warga dan pendamping memeriksa fasilitas budidaya maggot di Bandung. Data dari lapangan seperti ini menjadi dasar pengukuran outcome.
- Forecast sejak perancangan. Setiap proposal program disertai proyeksi nilai sosial, sehingga mitra tahu sejak awal apa yang ingin dicapai dan bagaimana mengukurnya.
- Data live di SocialTrace. Data penerima manfaat, aktivitas, dan bukti tercatat di platform milik Manava. SROI dihitung dari data terkini, dan mitra bisa memantau progres lewat dashboard.
- Dua tingkatan outcome. Selain perubahan pada orang (akses, pendapatan, posisi tawar), kami membaca perubahan sistem di sekitarnya, seperti kelembagaan kelompok dan jalur pasar.
- Batas klaim yang jelas. Setiap klaim disertai justifikasi dan didasarkan pada bukti sehingga pelaporan bisa dipertanggungjawabkan.
Layanan Impact Measurement Manava juga dapat dipakai untuk program yang dijalankan perusahaan, mulai dari social mapping, SROI forecast, sampai SROI evaluatif.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah SROI wajib untuk PROPER?
Untuk aspek inovasi sosial, ya. Permen LH/BPLH No. 7 Tahun 2025 Pasal 17 ayat (8) menetapkan bahwa penilaian inovasi sosial dilakukan melalui metode SROI, dan program unggulan inovasi sosial menjadi syarat peringkat Emas (Pasal 29).
Data apa yang perlu disiapkan?
Data penerima manfaat, catatan aktivitas dan anggaran, data kondisi awal (baseline), serta hasil monitoring program, misalnya pendapatan, produksi, atau status kerja. Data dapat diperoleh dari survei, wawancara, atau pengukuran dampak secara langsung.
Berapa rasio SROI yang dianggap bagus?
Tidak ada angka resmi. Rasio di atas 1:1 berarti nilai sosial yang tercipta lebih besar dari investasi. Penilai lebih memperhatikan asumsi yang transparan dan bisa diperiksa daripada besarnya rasio.
Apakah SROI bisa dihitung untuk program yang sudah selesai?
Bisa, dengan SROI evaluatif. Akurasinya bergantung pada ketersediaan data baseline dan data monitoring program.
Kemitraan pengukuran dampak
Manava Foundation membuka peluang kemitraan bagi perusahaan yang ingin mengukur nilai sosial program CSR, baik melalui SROI forecast pada tahap perancangan maupun SROI evaluatif untuk penilaian PROPER dan laporan keberlanjutan.
Baca juga: Mengenal Pendekatan Manava dalam Membangun Program CSR Berkelanjutan dan Dari Bank Sampah ke Greenpreneur: Temuan Riset Program Pengelolaan Sampah Manava di Bandung.

