Wawasan·Manava Foundation

Mengenal Pendekatan Manava dalam Membangun Program CSR Berkelanjutan

Program CSR berkelanjutan adalah program yang manfaatnya tetap berjalan setelah dukungan perusahaan selesai. Di tulisan ini kami berbagi cara Manava Foundation merancang program seperti itu, berdasarkan pengalaman kami mendampingi kelompok tani dan nelayan di berbagai daerah.

Tambak silvofishery dampingan Manava di antara mangrove Mempawah, Kalimantan Barat

Petani perempuan merawat tanaman padi di lahan kelompok tani dampingan Manava.

Hampir setiap orang yang pernah mengelola program CSR pernah melihat kejadian ini. Pelatihan sudah selesai dan alat sudah diserahkan, laporannya pun sudah diterima. Beberapa bulan kemudian, kegiatan di lapangan berhenti dan penerima manfaat kembali ke kondisi sebelum program dimulai.

Masalahnya jarang terletak pada niat baik atau besarnya anggaran. Program berhenti karena ada bagian yang tidak ikut digarap, misalnya pasar untuk produk yang dihasilkan, modal lanjutan, atau bukti bahwa program itu memang membawa perubahan. Pendekatan Manava, atau The Manava Approach, kami susun untuk menutup celah itu sejak awal.

Apa itu program CSR berkelanjutan?

Program CSR berkelanjutan adalah program tanggung jawab sosial perusahaan yang dirancang supaya manfaatnya tidak berhenti ketika masa program selesai. Kelompok penerima manfaat sanggup meneruskan kegiatannya tanpa bergantung pada bantuan, karena sudah punya keterampilan dan jalur pemasaran sendiri. Perubahan yang terjadi juga bisa diukur dan dilaporkan dengan jelas.

Bagi perusahaan, program seperti ini lebih mudah dipertanggungjawabkan. Hasilnya bisa dimasukkan ke laporan keberlanjutan, dan programnya bisa dikembangkan ke lokasi lain tanpa harus mulai dari nol.

Mengapa banyak program CSR berhenti setelah bantuan selesai?

Dari program yang sudah kami jalankan, ada lima hal yang paling sering membuat program pemberdayaan tersendat.

Kelima hal ini saling berkaitan. Pelatihan tanpa pasar tidak menghasilkan pendapatan, dan modal yang diberikan sebelum kelompoknya siap berisiko macet. Karena itu kami menangani kelimanya bersamaan.

Manava Foundation dan fokus pemberdayaan masyarakat

Manava Foundation adalah lengan sosial Manava Collective, ekosistem impact sourcing yang kini bekerja di lebih dari 10 kota di Indonesia. Kami membantu kelompok rentan membangun penghidupan yang mandiri lewat pengelolaan sampah sirkular, pertanian regeneratif, dan pelatihan kerja.

Yang kami dampingi antara lain petani dan kelompok tani, komunitas pengelola sampah dan calon wirausaha hijau (greenpreneur), serta pencari kerja dari kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas. Di semua program, perempuan dan anak muda mendapat perhatian khusus.

Prinsip kerja kami terangkum dalam satu kalimat, Capital That Stays, Communities That Grow. Dana yang dipercayakan kepada kami tetap tinggal dan berputar di komunitas, dan kelompok yang kami dampingi terus kami temani sampai mampu berjalan sendiri.

Pendamping lapangan Manava berdiskusi dengan petani di lahan

Pendamping lapangan berdiskusi langsung dengan petani di lahan mereka.

Satu siklus kerja, dari assessment sampai laporan dampak

Setiap program Manava berjalan dalam siklus yang sama. Kami memegang program sejak assessment lapangan dan perancangan, lalu pendampingan, sampai laporan dampak. Setiap tahap ditutup dengan satu keputusan, dan hasil pengukuran dipakai lagi untuk menentukan siapa yang siap naik tahap. Anda tidak perlu mencari konsultan riset, pelaksana, dan evaluator secara terpisah.

01
Assess

Social mapping, baseline, dan penilaian kesiapan tiap penerima manfaat.

02
Design

Theory of change, kerangka logis, skema dana, dan anggaran.

03
Deliver

Pelatihan, penguatan kelompok, dan penghubungan ke pembeli atau pemberi kerja.

04
Measure

Monitoring rutin, evaluasi dua level, dan valuasi dampak.

Empat pilar Pendekatan Manava

1Dana bergulir komunitas yang terus bekerja

Setiap orang mulai dari titik yang berbeda, jadi jenis dukungannya juga kami bedakan. Lewat readiness assessment, setiap penerima manfaat kami tempatkan dalam Graduation Framework berdasarkan kelayakan usahanya dan aksesnya ke pembiayaan.

Dana bergulir ini bersifat tertutup, hanya untuk penerima manfaat yang sudah kami assess dan dampingi. Cicilannya mengikuti arus kas usaha, misalnya dibayar setelah panen, dan tidak ada penyitaan aset rumah tangga. Saat terjadi gagal panen atau musibah, jadwal pembayarannya disesuaikan. Sebagian dana mitra juga dikelola sebagai Growing Fund, yang bertambah dari bagi hasil keuntungan usaha dan dipakai untuk menutup risiko gagal bayar.

Perputarannya kami laporkan dengan Capital Multiplier, yaitu berapa kali porsi modal kerja dari mitra benar-benar tersalurkan ke penerima manfaat. Angka ini selalu dilaporkan bersama tingkat pengembalian dan sisa dana di akhir periode, supaya tidak bisa digelembungkan.

2Akses pasar dari hulu sampai hilir

Bantuan baru bisa menjadi kemandirian kalau ada pendapatan yang masuk. Di hulu, kami membangun kemampuan produksi. Di tahap tengah atau midstream, kami menguatkan kelompok, mengumpulkan hasil produksi, dan menjaga mutunya. Di hilir, kami menghubungkan kelompok langsung dengan pembeli tetap tanpa perantara.

Tahap tengah inilah yang paling sering terlewat, padahal di sana nilai produk naik dan posisi tawar produsen menguat. Hasil pertanian kelompok binaan masuk ke pembeli B2B lewat ManaROOTS, lengkap dengan data asal-usul, mutu, dan jejak karbonnya. Lulusan pelatihan kerja disalurkan ke pemberi kerja lewat skema outsourcing bersama Manalab.

Kelompok tani menyortir bawang merah hasil panen

Anggota kelompok tani menyortir bawang merah hasil panen sebelum dijual.

3Pengukuran dampak di tingkat orang dan sistem

Di Manava, pengukuran dampak dipakai untuk mengambil keputusan sepanjang program, termasuk menentukan siapa yang siap naik tahap. Tidak ada kenaikan tahap tanpa dampak yang terukur. Kerangkanya kami sebut LME (Learning, Measurement and Evaluation), yang membaca perubahan di dua level sekaligus.

People-level outcome

Perubahan pada orang yang didampingi

Akses. Menjangkau pasar, pembeli, pemberi kerja, fasilitas, dan pendampingan.
Manfaat ekonomi. Pendapatan, stabilitas arus kas, dan porsi penghidupan dari usaha atau pekerjaan yang didampingi.
Kepemilikan dan posisi. Pengetahuan, posisi tawar, dan kemampuan bekerja sama dengan aktor lain.
Ekosistem. Lingkungan tempat penghidupan mereka bergantung tetap terjaga.
System-level outcome

Perubahan pada sistem di sekitarnya

Pola pikir dan relasi. Kepercayaan antar aktor dan rasa memiliki atas program.
Kebijakan dan tata kelola. Program masuk ke perencanaan daerah atau kebijakan mitra, dan forum kolaborasinya benar-benar berjalan.
Aliran modal. Mekanisme pasar berfungsi, agregasi dan pengolahan berjalan, dan pembiayaan mulai bergerak.

Setelah perubahannya terlihat, nilainya kami hitung. SROI (Social Return on Investment) menjawab berapa nilai sosial dari setiap Rp1 yang diinvestasikan. Nilainya kami sesuaikan dengan deadweight, atribusi, drop-off, dan displacement, yaitu perubahan yang sebenarnya akan terjadi tanpa program, yang disebabkan pihak lain, yang memudar seiring waktu, atau yang hanya memindahkan manfaat dari orang lain. SEVA dipasang sejak sebelum program dimulai sampai sesudahnya, untuk melihat apakah investasinya layak secara strategis dan berdampak sosial. Untuk produk, jejak karbonnya dihitung dengan LCA mengikuti ISO 14067 serta ISO 14040 dan 14044.

Tidak semua perubahan bisa langsung dibuktikan. Karena itu setiap klaim dampak kami beri status Measured, Indicated, Mixed, atau Pending, dan kami nilai seberapa besar program ikut berkontribusi pada perubahan itu lewat contribution analysis. Laporan kami selalu menyebut mana yang sudah terbukti dan mana yang masih asumsi.

Semua data program tersimpan di SocialTrace, platform yang kami kembangkan sendiri, sehingga Anda bisa memantau perkembangan lewat dashboard tanpa menunggu laporan berkala. Untuk komoditas pertanian, TaniTrace mencatat siapa yang menanam setiap batch, di mana, dan dengan grade apa. Laporan akhirnya siap dipakai untuk sustainability report, termasuk pengungkapan GRI 413 tentang komunitas lokal dan laporan keberlanjutan sesuai POJK 51/2017.

4Cerita program yang bisa ditiru

Program yang berhasil perlu dikenal orang supaya bisa diulang di tempat lain. Manava punya komunitas dan media sendiri, yaitu Fellowhopes, Aksi Jaga Bumi, Proud Circle, dan Proud Project. Untuk penerima manfaat, komunitas ini menjadi jaringan dukungan setelah pendampingan selesai. Untuk mitra, programnya bisa dilihat publik lewat kanal yang sudah punya pembaca.

Contoh program CSR berkelanjutan dari lapangan

GenTani, Desa Klepek, Bojonegoro

Petani Kelompok Tani Wiragatama belajar pertanian regeneratif lewat klinik tani dan demplot padi, bawang merah, serta cabai. Petani juga mulai membuat pupuk dan pestisida organik sendiri, bahkan membeli drum produksi dengan uang mereka sendiri. Pada 11 petani yang punya data awal dan akhir, rata-rata pendapatan bulanan tercatat naik dari Rp2,93 juta menjadi Rp4,57 juta, meski kenaikan ini belum bisa sepenuhnya disebut sebagai hasil program.

Mang Silvo, Mempawah, Kalimantan Barat

Nelayan Desa Sungai Bakau Kecil membentuk Kelompok Bakau Jaya dengan 19 anggota. Mereka kini mengelola tambak silvofishery yang menyatu dengan mangrove, dengan izin lahan dari pemerintah desa dan jadwal piket yang diatur bersama.

Layanan Manava sebagai mitra pelaksana program CSR

Pendekatan ini bisa Anda gunakan lewat empat layanan. Satu layanan bisa diambil sendiri, atau beberapa layanan digabung dalam satu program penuh.

Peserta pelatihan kerja belajar membuat kue

Peserta pelatihan kerja belajar mengolah makanan, salah satu jalur menuju pekerjaan lewat program Impact Sourcing.

Kami bekerja bersama perusahaan, yayasan dan lembaga donor, pemerintah daerah, lembaga keuangan dan investor dampak, serta industri yang membutuhkan pasokan produk atau tenaga kerja dari komunitas binaan.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa bedanya program CSR berkelanjutan dengan program CSR biasa?

Program CSR biasa sering berakhir ketika anggarannya habis. Program CSR berkelanjutan dirancang sejak awal supaya kelompok penerima manfaat bisa melanjutkan kegiatannya sendiri, misalnya dengan menyiapkan pasar, modal bergulir, dan penguatan kelembagaan.

Bagaimana cara mengukur dampak program CSR?

Kami membandingkan kondisi sebelum dan sesudah program di dua level, yaitu pada orang yang didampingi dan pada sistem di sekitarnya. Nilai sosialnya dihitung dengan SROI dan SEVA, dan setiap klaim diberi status apakah sudah terukur atau masih berupa indikasi.

Apakah Manava bisa mengukur dampak program yang dijalankan perusahaan sendiri?

Bisa. Layanan Impact Measurement kami juga dipakai untuk program yang dijalankan mitra, mulai dari social mapping sebelum program dimulai sampai perhitungan SROI untuk program yang sudah berjalan.

Bagaimana skema dana bergulir bekerja?

Penerima manfaat yang usahanya sudah layak mendapat modal kerja tanpa bunga lewat koperasi mitra. Cicilannya mengikuti arus kas usaha, lalu dana yang kembali diputar ke penerima berikutnya. Yang belum siap tetap didukung lewat hibah sampai usahanya layak.

Apakah laporan dari Manava bisa dipakai untuk sustainability report?

Bisa. Laporan dampak kami disusun agar siap dipakai untuk sustainability report, termasuk pengungkapan GRI 413 dan laporan keberlanjutan sesuai POJK 51/2017.

Mulai dari satu percakapan

Setiap kerja sama dengan Manava dimulai dari kebutuhan Anda. Alurnya kurang lebih seperti ini:

  1. Diskusi kebutuhan dan tujuan program
  2. Assessment lokasi dan penerima manfaat
  3. Proposal program, anggaran, dan skema dana
  4. Pelaksanaan, dengan pemantauan langsung di SocialTrace
  5. Pengukuran dan laporan dampak

Ingin program CSR Anda tetap memberi manfaat setelah programnya selesai? Ceritakan tujuan program Anda kepada tim kami.

Jadwalkan diskusi
Grow Your Impact Within Our Ecosystem.

Partner with our ecosystem to design and scale inclusive growth for a more resilient future.