Dari Bank Sampah ke Greenpreneur: Temuan Riset Program Pengelolaan Sampah Manava di Bandung
Riset tim Manava atas program Jaga Bumi di Bandung Raya menemukan bahwa banyaknya sampah yang diolah tidak menentukan apakah usaha warga bertahan. Ini temuannya, dan apa artinya bagi perusahaan yang merancang program CSR pengelolaan sampah.

Anggota kelompok Aksi Jaga Bumi merawat rak budidaya maggot, salah satu cara warga mengolah sampah organik.
Sepanjang 2024, satu kelompok warga di Bandung mengolah 41,6 ton sampah. Tahun berikutnya, usaha mereka mencatat penjualan Rp1,3 juta. Kelompok lain hanya mengolah 5,8 ton sampah, tetapi penjualannya mencapai Rp56,9 juta.
Selisih ini adalah salah satu temuan dalam paper Integrating Waste Management & Circular Economy, yang ditulis M. Nur Afif Aulia dan Daffi Syarif Tanjung dari tim Manava. Paper ini terbit dalam E-Proceeding Indonesia Social Responsibility Award (ISRA) 2026 dan meneliti program Jaga Bumi yang kami jalankan di Bandung Raya pada 2024 dan 2025.
Afif memaparkan paper ini di konferensi ISRA 2026 dan meraih penghargaan Best Presenter.

M. Nur Afif Aulia menerima penghargaan Best Presenter di Indonesia Social Responsibility Award 2026.
Bagi perusahaan yang sedang merancang program CSR pengelolaan sampah, temuannya memberi satu pesan praktis: mengukur ton sampah saja tidak cukup untuk menilai apakah program akan bertahan.
Program sampah sering berhenti saat pendampingan selesai
Bandung punya tekanan sampah yang nyata. Pengelola persampahan kota menyebut Kota Bandung menghasilkan 1.200 hingga 1.500 ton sampah per hari, dan sekitar 641 ton di antaranya sampah organik.
Banyak program merespons dengan membentuk bank sampah, melatih warga, dan menyediakan sarana. Paper ini mencatat pola yang sering terjadi setelahnya: keterlibatan warga menurun ketika pelatihan, fasilitasi, atau dana berakhir. Keberhasilan program pun biasanya hanya diukur dari jumlah peserta atau volume sampah yang diolah.
Penulis paper bertanya, kalau warga sudah mampu mengelola sampah, apakah kegiatan itu bisa tumbuh menjadi sumber penghidupan? Insentif ekonomi inilah yang membuat warga terus mengelola sampah setelah program selesai.
Apa yang diteliti
Penelitian ini memakai metode campuran dengan desain studi kasus. Bandung Raya dipilih karena merupakan satu-satunya wilayah program Jaga Bumi yang menjalankan seluruh rangkaian intervensi, yaitu tiga tahap berikut.
Dari 30 komunitas yang mendaftar, 15 kelompok terpilih mendapat pelatihan teknis, pendampingan, dan sarana pengolahan sampah. Mereka melapor setiap minggu selama setahun, dan lima kelompok dengan capaian terbaik mendapat tambahan dana.
Inkubasi untuk 18 usaha hijau: enam kelompok lanjutan dari Aksi Jaga Bumi dan 12 pelaku usaha dari rekrutmen terbuka. Materinya model bisnis, produk, pemasaran, keuangan, dan pendampingan berbasis kinerja.
Toko bersama di Cihampelas Walk, Bandung, tempat produk para greenpreneur dipasarkan.

Penyerahan sarana budidaya maggot kepada kelompok Gemi 0418, salah satu dari lima kelompok terbaik Aksi Jaga Bumi.
Data yang dianalisis mencakup 376 laporan mingguan dari 15 kelompok, data penjualan dan laba 18 usaha, serta penelusuran enam kelompok yang mengikuti kedua tahap.
Temuan 1: warga mampu mengelola sampah secara konsisten
Sepanjang 2024, 15 kelompok Aksi Jaga Bumi mengolah sekitar 153 ton sampah, terdiri dari 128,3 ton organik dan 24,7 ton anorganik. Residu yang tersisa 41,5 ton, sehingga 78,7% sampah teralihkan dari tempat pemrosesan akhir.
Caranya beragam dan disesuaikan dengan kondisi tiap lokasi, mulai dari budidaya maggot, pengomposan, sampai produksi eco-enzyme. Kelompok-kelompok ini mengirim 376 laporan mingguan selama setahun. Penulis memakai konsistensi laporan ini sebagai tanda bahwa anggota kelompok terus berkoordinasi selama masa pendampingan.


Budidaya maggot menjadi salah satu cara kelompok Aksi Jaga Bumi mengurai sampah organik dari lingkungannya sendiri.
Temuan 2: 15 dari 18 usaha untung, dan usia usaha berpengaruh
Dalam tujuh minggu pemantauan Greenpreneur Academy, 18 usaha mencatat penjualan sekitar Rp241 juta dan laba Rp59,5 juta. Sebanyak 15 usaha membukukan laba positif. Pola yang paling jelas terlihat dari usia usaha saat masuk inkubasi.
Semua usaha yang sudah berjalan lebih dari sebulan memperoleh laba, sedangkan usaha yang baru dirintis belum ada yang untung. Penulis menyimpulkan bahwa inkubasi bekerja paling baik sebagai akselerator bagi usaha yang sudah punya fondasi, dan kurang efektif untuk membangun usaha dari nol.
Temuan 3: volume sampah tidak sejalan dengan penjualan
Penelitian ini menelusuri enam kelompok yang mengikuti kedua tahap program. Hasilnya, kelompok yang mengolah sampah paling banyak belum tentu menjual paling banyak.
Ngadaur adalah contohnya. Kelompok ini tidak menjual kompos curah. Mereka mengemas kompos menjadi produk bermerek bernama Kobox (Kompos in The Box), lengkap dengan desain kemasan dan target pembeli yang jelas. Dengan volume olahan 5,8 ton, Ngadaur mencatat penjualan Rp56,9 juta dan laba Rp21,9 juta.
Nilai ekonomi muncul ketika sampah diolah menjadi produk yang diinginkan pembeli. Kemampuan teknis mengolah sampah tetap menjadi fondasinya.

Produk olahan para greenpreneur Jaga Bumi. Nilai tambahnya muncul dari desain, kemasan, dan pembeli yang jelas.
Temuan 4: produk yang bagus tetap butuh pasar
Produk bernilai tambah baru menghasilkan pendapatan kalau ada saluran yang mempertemukannya dengan pembeli. Di program ini, fungsi itu dijalankan Jaga Bumi Eco Mart di Cihampelas Walk.

Jaga Bumi Eco Mart di Cihampelas Walk, Bandung, toko bersama untuk produk para greenpreneur.
Penulis menyebut Eco Mart sebagai pasar bersama. Para greenpreneur bisa berjualan tanpa membangun toko dan jaringan pemasaran sendiri. Biaya promosi bisa ditekan, dan produk komunitas lebih mudah dipercaya pembeli karena tampil sebagai bagian dari satu gerakan. Para pelaku usaha juga saling bertukar pengalaman dan berkolaborasi.
Lima mekanisme yang saling terhubung
Dari keempat temuan itu, penulis menyusun Model Keterhubungan Rantai Nilai Ekonomi Sirkular Komunitas. Model ini menjelaskan lima mekanisme yang membawa komunitas dari pengelolaan sampah ke usaha hijau yang bertahan.
Warga mengolah sampah dengan cara yang sesuai kondisi lokal.
Kelompok bekerja dan melapor secara konsisten.
Pendampingan model bisnis, produk, keuangan, dan pemasaran.
Sampah diolah menjadi produk bermerek dan berkemasan.
Produk dijual lewat Jaga Bumi Eco Mart.
Di dalam model ini, peran Manava lebih luas dari penyelenggara program. Paper menyebutnya ecosystem orchestrator, yaitu pihak yang menghubungkan komunitas, pelaku usaha, pembeli, perusahaan, dan mitra pembangunan dalam satu sistem.

Komunitas Jaga Bumi di depan Eco Mart, Cihampelas Walk, Bandung.
Empat pelajaran untuk program CSR pengelolaan sampah
- Anggarkan program sebagai rangkaian tahap. Pelatihan dan sarana pengolahan adalah tahap pertama. Sediakan anggaran untuk inkubasi usaha dan akses pasar sejak proposal, supaya program tidak berhenti di pengurangan sampah.
- Sesuaikan dukungan dengan kesiapan peserta. Komunitas yang baru mulai butuh penguatan kapasitas lebih dulu. Inkubasi usaha paling efektif untuk kelompok yang usahanya sudah berjalan.
- Tambahkan indikator ekonomi. Selain ton sampah, pantau penjualan, laba, dan jumlah produk bernilai tambah. Indikator ini menunjukkan apakah kegiatan akan bertahan setelah pendanaan selesai.
- Siapkan pembeli sejak awal. Petakan saluran penjualan sebelum produk jadi, baik toko bersama, mitra ritel, maupun pembeli korporat.
Untuk pemerintah daerah, model ini bisa dipadukan dengan program bank sampah dan TPS3R yang sudah berjalan. Komunitas yang sudah aktif mengelola sampah bisa menjadi titik awal inkubasi usaha.
Batasan penelitian
Penulis menyebut beberapa batasan dengan terbuka. Penelitian ini adalah studi kasus di satu wilayah, sehingga temuannya belum bisa digeneralisasi ke semua konteks. Data usaha juga berasal dari tujuh minggu pemantauan, periode yang pendek untuk menilai keberlanjutan usaha mikro. Penulis menyarankan model ini diuji di wilayah dan jenis komunitas lain.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa itu greenpreneur?
Greenpreneur adalah pelaku usaha yang menjalankan bisnis berbasis lingkungan. Di program Jaga Bumi, greenpreneur mengolah sampah menjadi produk yang bisa dijual, misalnya kompos dalam kemasan bermerek.
Apakah model ini bisa diterapkan di kota lain?
Program Jaga Bumi sudah berjalan di Bandung Raya, Pekanbaru, Yogyakarta, Jabodetabek, dan Surabaya. Rangkaian lengkapnya, dari pengelolaan sampah sampai toko bersama, baru diteliti di Bandung Raya.
Di mana saya bisa membaca paper lengkapnya?
Paper dapat diakses gratis di laman E-Proceeding ISRA dengan DOI 10.55381/isra.v4i1.596.
Apa peran perusahaan dalam model ini?
Perusahaan bisa mendanai satu tahap atau seluruh rangkaian, yaitu pelatihan komunitas, inkubasi usaha, atau penguatan jalur pasar. Perusahaan juga bisa menjadi pembeli produk komunitas.
Mulai dari satu percakapan
Sedang merancang program CSR pengelolaan sampah dan ingin hasilnya bertahan setelah pendanaan selesai? Kami bisa membantu dari pemetaan komunitas, inkubasi usaha, sampai pengukuran dampak.
Diskusikan program AndaBaca juga: Mengenal Pendekatan Manava dalam Membangun Program CSR Berkelanjutan.
Sumber: Aulia, M. N. A., & Tanjung, D. S. (2026). Integrating Waste Management & Circular Economy: Building a Community-Based Greenpreneur Ecosystem. E-Proceeding Conference: Indonesia Social Responsibility Award, 4(1), 42 sampai 57. https://doi.org/10.55381/isra.v4i1.596

